Kabar Internasional
WHO: 50 Juta Kasus Demam Berdarah Per Tahun
Senin, 19 Oktober 2009 22:43 WIB
Makassar, (tvOne)
Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) memperkirakan terdapat sekitar 50 juta kasus demam berdarah (DB) terjadi setiap tahun di dunia. "Dari puluhan juta kasus DB tersebut yang membutuhkan opname di rumah sakit mencapai 500 ribu orang," kata Dr Mark Schreiber dari Novartis Institute for Tropical Diseases (NITD) pada simposium internasional tentang Tuberculosis dan Dengue di Makassar, Senin.
Dia mengatakan, angka kejadian DB di dunia terus meningkat dan kini terjadi endemi di lebih 100 negara di Asia, Afrika, Amerika dan Mediterania Timur. Sementara serangan penyakit yang paling serius terjadi di Asia Tenggara dan Pasifik Selatan. "Sedikitnya dua per lima dari populasi dunia ini berisiko terkena DB dan sejak 1986, angka kejadian kasus akut berlipat empat kali," katanya.
Penyebab perluasan virus yang ditularkan dari gigitan nyamuk pengidap `stegomyia aegypti atau Stegomyia albopticus`, katanya, karena adanya urbanisasi, kurang pembasmian nyamuk dan transportasi modern.
Berdasarkan data WHO diketahui, di antara 2,5 miliar orang yang berisiko terjangkit DB, sekitar 1,8 miliar (lebih dari 70 persen) tinggal di Asia Pasifik. Bahkan sebuah pendemi global terjadi di Asia Tenggara setelah Perang Dunia II, dan meningkat pesat dalam 15 tahun terakhir.
Mengenai kasus DB di Indonesia, Dr Rita Kusriastuti (vector/animal borne disease control/CDC, MOH Indonesia) pada kesempatan yang sama mengatakan, kasus DB Dengue pada Agustus 2009 mencapai 700 kasus atau lebih tinggi daripada periode 2008 yang hanya 500 kasus.
Dia mengatakan, saat ini musim hujan di Indonesia datang telat dan berkepanjangan, sehingga dapat memicu peningkatan jumlah pasien DB. Nyamuk Aedes yang menjadi penular virus, biasanya banyak muncul pada musim hujan di bulan Juli - September.
Sementara itu, peneliti dari Novartis-Eijkman-Hasanuddin Clinical Research Initiative (NEHCRI) Dr Sitti Wahyuni mengatakan, penelitian DB di Makassar dilakukan di dua lokasi yakni kawasan Barombong dan Tamalanrea pada 2006.
Kedua lokasi yang tercatat memiliki kerentanan tinggi dan rendah warganya tertular DB, lanjutnya, erat kaitannya dengan faktor demografi, sosioekonomi dan sejarah kasus demam yang dialami warga yang menjadi contoh dalam penelitian itu.(ANT)
