tvOne Newsticker
Jumat, 12 Maret 2010

Kabar Internasional

Pembantaian, Arroyo Tetapkan Status Darurat di Selatan

Selasa, 24 November 2009 14:54 WIB

Manila, (tvOne)

Presiden Filipina Gloria Arroyo Selasa mengumumkan sebagian wilayah Filipina selatan yang bergolak berada di bawah darurat negara setelah terjadi pembantaian terhadap sedikitnya 22 orang di wilayah itu, kata juru bicaranya.

Seorang polisi senior di Filipina Selatan dipecat dan ditahan setelah saksi mata mengatakan, dia berada di tempat terjadinya pembantaian sekelompok politisi dan wartawan, kata polisi Selasa.

"Inspektur Kepala Zukarno Dicay, asisten direktur kepolisian tingkat provinsi, dibebastugaskan," kata juru bicara kepolisian nasional Filipina, Inspektur Kepala Leonardo Espina, di jaringan televisi ABS-CBN. "Dia kini sedang di bawah pemeriksaan dan penahanan," katanya.

Dicay adalah pejabat polisi peringkat tertinggi kedua di provinsi Maguindanao, ketika sedikitnya 22 orang orang dibunuh Senin, dalam aksi penculikan yang menurut pihak yang berwenang terkait dengan persaingan kekuasaan antara pihak-pihak yang bermusuhan.

Orang-orang bersenjata menculik para korban ketika mereka sedang melintasi jalan raya, menangkap mereka dan dibawa ke satu daerah terisolasi, kata polisi dan militer.

"Dia (Dicay) pada saat itu tampak berada di tempat kejahatan bersama dengan beberapa CAFGU," kata Espina, merujuk pada anggota milisi Unit Geografi Warga Angkatan Darat (CAFGU) yang sedang dilatih oleh pemerintah untuk menghadapi pemberontak lokal.

Pihak militer mengatakan, kelompok Ampatuan, yang kegiatan politiknya terpasung di daerah Maguindanao, tempat pembunuhan itu dilakukan, menjadi terdakwa utama. "Para tertuduh adalah pengawal-pengawal Ampatuan, para pembantu kepolisian lokal, dan unsur-unsur pelanggar hukum tertentu," kata juru bicara militer, Letkol Romeo Brawner.

Di antara yang tewas adalah keluarga Esmael Mangudadatu, yang berencana akan mencalonkan diri menjadi gubernur dalam pemilihan nasional tahun depan, menghadapi anggota kelompok Ampatuan. Para wartawan saat itu menyertai kunjungan Mangudadatu ke satu kantor daerah pemilihan dan juga dibunuh. (Ant)

ed
Bookmark and Share
Komentar Kabar
Kirim Komentar