Kabar Internasional
Dua Provinsi Filipina Berstatus Darurat
Selasa, 24 November 2009 21:07 WIB
Manila, (tvOne)
Presiden Filipina, Gloria Macapagal Arroyo, hari ini menetapkan status darurat di dua provinsi di Filipina selatan menyusul pembantaian massal terhadap rombongan pendukung kandidat gubernur, serta para jurnalis, Selasa (24/11). Pemberlakuan status darurat membuat pasukan keamanan bebas mengejar kawanan bersenjata yang Senin kemarin mencegat konvoi politisi, menculik dan membunuh mereka.
Sementara itu, hari ini kepolisian Filipina kembali menemukan 11 mayat. Berarti hingga saat ini korban pembunuhan massal sudah mencapai 35 orang. Jumlahnya diduga akan semakin bertambah karena petugas masih menggali tempat yang diduga sebagai kuburan massal yang terletak di kota Ampatuan, Pulau Mindanao tersebut. Sebanyak 24 mayat, 12 di antaranya wartawan, kemarin ditemukan di wilayah terpencil di pegunungan.
Menurut kepolisian, konvoi diikuti sekitar 40 orang yang berencana mendaftarkan Mangudadatu, wakil walikota Buluan, sebagai kandidat gubernur provinsi. Di tengah jalan, mereka dicegat oleh belasan orang bersenjata. Korban yang ditemukan kemarin juga termasuk istri Mangudadatu, Genalyn, dan dua saudara perempuannya. Mayat mereke tergeletak di jalan, ditembak saat berada di atas kendaraan mereka.
Pos-pos pemeriksaan didirikan dan pencarian dilakukan secara acak. Kondisi ini akan berlangsung hingga presiden yakin bahwa hukum dan peraturan telah kembali di kawasan selatan. Demikian dikatakan juru bicara Arroyo, Cerge Remonde. Mangudadatu mengatakan, empat saksi berkata padanya bahwa iring-iringan kendaraan dengan sekitar 40 peserta itu dicegat oleh para pelaku bersenjata yang loyal terhadap Andal Ampatuan Jr., walikota yang berasal dari satu klan berkuasa.
"Pembantaian itu direncanakan karena mereka sudah menggali lubang besar untuk mayat-mayat korban," kata Mangudadatu. Remonde mengatakan bahwa pemerintah Filipina menekankan akan mengejar pelaku. "Tidak seorangpun yang tidak akan tersentuh," kata Remonde.
