Kabar Internasional
Sekutu Arroyo Tersangka Pembantaian 46 Orang
Rabu, 25 November 2009 11:31 WIB
Manila, Filipina, (tvOne)
Kepolisian Filipina Rabu menyebut seorang sekutu politik Presiden Gloria Arroyo sebagai tersangka utama dalam pembantaian 46 orang yang berkaitan dengan pemilihan umum.
"Menurut awal, orang yang menculik dan membunuh di Saniag semula dihentikan oleh satu kelompok yang dipimpin oleh walikota Datu Unsay," kata juru bicara kepolisian nasional, Inspektur Kepala Leonardo Espina.
Walikota Datu Unsay adalah Andal Ampatuan Jr, anggota koalisi Lakas Kampi CMD yang berkuasa pimpinan Arroyo dan putranya, seorang politisi daerah yang sangat berpengaruh, yang diyakini sebagai pendukung lokal dalam pemilihan presiden sebelumnya.
Pihak yang berwenang di Filipina Rabu akan mengevaluasi pencarian korban pembantaian yang sebelumnya dikabarkan menewaskan 46 orang, di tengah kekhawatiran jumlah korban mencapai 50 orang, kata pihak militer.
Pembunuhan massal terhadap para pembantu dan keluarga seorang politisi lokal di Filipina selatan, di samping wartawan yang menyertai mereka, itu terjadi Senin di sekitar daerah pertanian di pulau selatan Mindanao yang bergolak.
"Pencarian akan terus dilanjutkan pada hari ini," kata juru bicara militer daerah, Letkol. Jonathan Ponce, kepada AFP. "Mereka mengatakan terdapat lebih dari 50 korban, namun hanya 46 mayat yang telah ditemukan, karena itu kami akan mencari lainnya," ujarnya.
Jenazah dari sedikitnya 13 wartawan dan keluarga politisi lokal, Esmael Mangudadatu, ditemukan dikubur di pemakaman massal atau di buang di tempat sampah di pinggir jalan di provinsi Maguindanao.
Pihak militer mengatakan, tertuduh utama dalam aksi penculikan dan pembunuhan itu adalah orang-orang bersenjata yang disewa oleh gubernur Maguindanao, Andal Ampatuan, dan putranya yang bernama sama.
Keluarga para korban dan para saksi mata mengatakan, kelompok politik kuat itu ingin menghentikan langkah Mangudadatu dari menantang Ampatuan junior untuk meraih jabatan gubernur dalam pemilihan umum nasional tahun depan.
Para korban itu ditangkap pada saat mereka sedang melakukan perjalanan konvoi dengan isteri Mangudadatu, ketika dia akan ke kantor pemilu untuk mendaftarkan suaminya mencalonkan diri sebagai gubernur.
Tiga polisi yang diyakini setia kepada Ampatuan telah menahan mereka dengan tuduhan terlibat dalam pembunuhan.
Setelah terjadi pembunuhan besar-besaran itu, Presiden Filipina Gloria Arroyo memberlakukan peraturan darurat di di Maguindanao, tetangga kota Cotabato dan provinsi Sultan Kudarat, di dekatnya.
Ponce mengatakan, tentara telah dikirim ke wilayah bergolak itu, yang terkenal dengan penguasa-penguasa politik selain pemberontakan separatis Muslim. Tempat-tempat pemeriksaan dilengkapi petugas didirikan di jalan-jalan raya penting di wilayah itu untuk mencegah terjadinya bentrokan bersenjata. (Ant)
